Dengarkan Radio DMS 102,7 FM Ambon dengan Kualitas Audio Terbaik di Maluku

Setelah Sony "gagal" menjual kisah tentang manusia laba-laba melalui tangan Marc Webb dan Andrew Garfield sebagai si pahlawan, Sony memberikan kembali salah satu seri menguntungkan mereka ke ibunya, Marvel. Marvel tak butuh waktu lama untuk menyeret si manusia laba-laba ke dunianya yang sudah penuh dan terpondasi dengan baik.

Spider-Man (Tom Holland) pun langsung dengan asyik mejeng dengan para Avenger lain melalui permainannya yang singkat namun efektif dalam 'Captain America: Civil War'. Tinggal menunggu waktu sebelum Marvel menyediakan slot sendiri bagi si pahlawan untuk narsis dalam film solonya.

'Spider-Man: Homecoming' ternyata adalah sebuah film solo yang efektif meskipun dibayang-bayangi oleh dua film Spider-Man sebelumnya. Ia harus menjadi film yang lebih baik dari versi Marc Webb dan mungkin berusaha keras untuk menyamai kedudukan versi Raimi.

Tugas yang berat memang, namun ternyata Spider-Man: Homecoming mempunyai jaring yang kuat untuk menjadi sebuah tontonan yang fresh. Salah satu kekuatan kenapa 'Spider-Man: Homecoming' nampak begitu gagah adalah pembuatnya tidak perlu repot-repot untuk menceritakan ulang bagaimana Peter Parker berubah menjadi manusia laba-laba.

Penonton sudah mengetahui background tersebut dari dua film yang berbeda. Kini Marvel bersama deretan penulis skripnya— Jonathan Goldstein, John Francis Daley, Jon Watts, Christopher Ford, Chris McKenna dan Erik Sommers—hanya perlu menunjukkan apa yang membedakan Spider-Man ini dengan film-film sebelumnya.

'Spider-Man: Homecoming' memulai filmnya dengan wejangan spesifik dari Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr.) untuk tidak ikut campur dengan tindakan kriminal yang ada di sekitarnya. Tapi tentu saja, sebagai bocah lima belas tahun yang baru saja bertempur bersama tim Avenger, dia tidak bisa menuruti kata-kata si boss dengan begitu saja.

Parker malah dengan tidak sengaja membuntuti kriminal yang dikepalai oleh Adrian Toomes (Michael Keaton, nampaknya begitu menikmati menjadi penjahat) yang menjual senjata-senjata rakitan dan basian barang alien. Usaha Parker dalam menaklukkan penjahat memang penuh dengan rintangan. Dan dalam beberapa kasus, dia terpaksa harus mendapatkan ceramah panjang dari Tony Stark.

Tapi itu belum apa-apa dibandingkan dengan masalah di sekolahnya: teman-temannya menganggapnya idiot, cewek taksirannya sepertinya tidak menganggapnya dia ada dan hanya Ned (Jacob Batalon, sahabatnya) yang secara tidak sengaja tahu identitasnya yang lain. Masa remaja memang berat, apalagi kalau Anda kebetulan adalah seorang pahlawan super.

Yang membedakan jelas antara film ini dengan film-film Spider-Man sebelumnya adalah pendekatan terhadap sang tokoh utama. Jikalau versi Marc Webb lebih disibukkan oleh kisah cintanya dan versi Sam Raimi lebih sibuk menggambarkan awal mula seorang kutu buku menjadi pahlawan super, Spider-Man: Homecoming sesungguhnya adalah sebuah film remaja. 

Jon Watts sebagai sang sutradara menempatkan penonton di sebuah dunia yang familiar namun menjadi baru ketika si Spider-Man ada di tengah-tengahnya.

Sam Raimi memang sempat menyinggungnya di awal-awal film pertamanya, namun 'Spider-Man: Homecoming' mengeksplor kepolosan dan jiwa muda Peter Parker jauh lebih mendalam. Bagaimana rasanya mempunyai hubungan emosional yang lebih dekat dengan sahabat, bagaimana rasanya tahu ketika gebetan kita ternyata tidak tertarik dengan kita, bagaimana menyembunyikan identitas sebagai superhero di sebuah budaya di mana menjadi eksis adalah tolak ukur kepopuleran.

Hal inilah yang membuat 'Spider-Man: Homecoming' menjadi fresh dan menyenangkan. Kita belum melihat sisi Peter Parker beradaptasi dengan kekuatan barunya dengan lebih gamblang. Dan Jon Watts berhasil melakukan itu dengan brilian, lengkap dengan referensi 80-an mulai dari fashion, musik dan referensi John Hughes.

Sebagai film aksi, 'Spider-Man: Homecoming' tetap menawarkan adegan-adegan yang sensasional dan kocak. Klimaksnya memang kurang nendang jika dibandingkan dengan adegan kereta di 'Spider-Man 2', tapi aksinya melawan Vulture tetap saja menegangkan. Klimaksnya mungkin kurang maksimal, namun semuanya segera ditutup dengan pita manis oleh Watts dengan epilog yang apik.

'Spider-Man: Homecoming' pada akhirnya berhasil menjadi sebuah karya Marvel yang tidak hanya menyegarkan namun juga sebuah entry yang apik untuk dunia Marvel yang semakin meluas. Tom Holland, sebagai Peter Parker, adalah salah satu alasan kenapa film ini berhasil menjadi tontonan yang super.

Keluguannya, kepolosannya dan kemampuan fisiknya untuk melakukan stunt-stunt gila membuatnya menjadi sosok Peter Parker yang komplet. 'Spider-Man: Homecoming' tidak hanya sebuah tontonan wajib bagi Anda penggemar film-film Marvel tapi juga sebuah perkenalan ulang yang menyenangkan dengan si manusia laba-laba tersebut.

DMS TWITTER

DMS Fan Page