Dengarkan Radio DMS 102,7 FM Ambon dengan Kualitas Audio Terbaik di Maluku

Berita mengenai penculikan anak tak pernah sepi beredar di media sosial. Meski belum tentu benar, namun hal itu membuat banyak orangtua khawatir dengan keamanan buah hatinya.

Untuk memastikan keselamatan anak-anaknya, sebagai orangtua umumnya kita mengajarkan mereka agar tidak sembarangan berbicara dengan orang asing. Di lain pihak, anak-anak sekarang ini lebih berani untuk mengobrol dengan orang yang baru dikenalnya.

Sebagai orangtua, tentu kita senang jika anak-anak mampu bersikap ramah dan sopan pada orang lain, tetapi sikap terbuka mereka juga bisa mengkhawatirkan.

Ketahui kita mengajarkan pada anak cara berhati-hati kepada orang asing.

  1. Pilih kata-kata

Menurut Pattie Fitzgerald, pendiri organisasi keselamatan anak Safely Ever After, Inc, sebaiknya jangan gunakan kata "orang asing" pada anak, namun pakailah istilah "orang yang licik".

Kita bisa menjelaskan bahwa "orang licik" adalah orang dewasa, baik yang dikenal atau tidak, namun suka membohongi anak-anak dan melanggar aturan.

"Kata orang dewasa sangat penting karena anak-anak cenderung mudah percaya pada orang dewasa. Sementara itu, istilah 'orang asing' yang kita gunakan ternyata tidak selalu menyeramkan bagi anak. Bisa saja orang itu bersikap ramah dan menarik, punya mainan atau hewan yang lucu," kata Fitzgerald.

Untuk memastikan anak-anak tahu bagaimana menghadapi orang yang licik, buatlah skenario spesifik. Misalnya, ajukan pertanyaan seperti: "Apa yang kamu lakukan jika ada orang dewasa menawari kamu permen? Bagaimana jika ia meminta tolong padamu untuk mencari kucingnya yang hilang?" Dengarkan jawabannya dan lalu jelaskan cara yang tepat untuk bersikap.

Bila anak bertanya mengapa ia tak boleh menerima permen atau ikut mencari kucing yang hilang, jauhi komentar seperti, "Kamu nanti diculik". Sebaiknya jelaskan bahwa tidak semua orang yang kita temui baik. Buatlah aturan bersama bahwa ia tidak boleh pergi dengan siapa pun, tanpa ijin orangtua.

  1. Buat rencana

Untuk anak usia Taman Kanak-kanak, aturan keselamatan sebaiknya dipelajari melalui ingatan otot. Misalnya dengan bermain peran. Buatlah permainan yang mudah dimengerti anak dan bersifat fun.

"Karena kita sebagai orangtua tahu bahaya yang mengintai di luar sana, kita cenderung mengajarkannya terlalu serius dan tidak menyenangkan untuk anak," kata Sherryll Kraizer, Ph.D, penulis buku The Safe Child Book.

Tentu saja terkadang anak butuh bantuan orang asing. Karena itu, memainkan peran dalam berbagai situasi sangat penting. Misalnya ketika anak terpisah dengan orangtua di tempat umum. Ajarkan anak untuk mencari petugas satpam atau karyawan toko, misalnya kasir. Alternatif lain adalah meminta tolong pada ibu-ibu yang sedang bersama anak.

  1. Belajar percaya naluri

Kita juga perlu mengajarkan anak untuk percaya pada nalurinya. Bukan hanya pada orang asing, tapi juga orang yang dikenal karena kekerasan seksual seringkali dilakukan oleh orang dewasa yang anak kenal.

Amber Ledergerber, guru sekolah dasar di California, berbagi saran. Ia selalu mengajarkan pada anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun dan kakaknya untuk bereaksi jika ada perasaan aneh di perut.

"Pergilah menjauh dari orang yang membuatmu seperti itu dan ceritakan pada orang dewasa yang kamu percaya. Saya juga mengajarkan ke anak-anak agar tidak menyimpan rahasia dari orangtua. Bila seseorang menyuruhmu menyimpan rahasia, katakan pada ayah dan ibu," ujarnya.

DMS TWITTER

DMS Fan Page