Dengarkan Radio DMS 102,7 FM Ambon dengan Kualitas Audio Terbaik di Maluku

Menteri Perindustrian ( Menperin) Airlangga Hartarto mengungkapkan, bahwa Indonesia berhasil naik peringkat ke posisi 9 setelah sebelumnya menduduki posisi ke-10 sebagai negara dengan nilai tambah industri manufaktur terbesar.

Hal itu diungkapkan Airlangga setelah bertemu dengan perwakilan Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) yakni UNIDO Representative Indonesia, Shadia Bakhait Hajarabi di Jakarta, Senin (12/6/2017).

"Indonesia naik peringkat, jadi posisi ke-9 sejak 2017,” kata Airlangga.

Menurutnya, dengan capaian tersebut, Indonesia sejajar dengan Inggris, adapun penilaian UNIDO berdasarkan dari jumlah produksi dan nilai tambah industri manufaktur yang semakin meningkat di Indonesia.

"Mereka menghitungnya dari manufacturing value added. Jumlahnya terus bertambah,” imbuhnya.

Menanggapi prestasi tersebut, Airlangga menyampaikan bahwa seluruh pihak harus tetap bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi khususnya dalam pengembangan industri dalam negeri.

"Apalagi, sektor industri merupakan kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi nasional," tegasnya.

Berdasarkan data International Yearbook of Industrial Statistics 2016 yang dirilis oleh UNIDO, industri manufaktur di Indonesia telah memberikan kontribusi hampir seperempat bagian dari PDB.

Disebutkan, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan positif, bahkan pada saat krisis finansial global yaitu ketika kondisi ekonomi kebanyakan negara-negara maju mengalami penurunan, sehingga Indonesia berhasil mencapai ranking 10 besar negara industri manufaktur di dunia atau top ten manufacturers of the world.

Sedangakan, Badan Pusat Statistik mencatat, produksi industri manufaktur besar dan sedang di kuartal I-2017 naik 4,33 persen dalam setahun.

Adapun produksi industri manufaktur mikro kecil kuartal I-2017 tumbuh 6,63 persen dalam setahun.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang antara lain disebabkan kenaikan produksi industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 9,59 persen, industri makanan 8,20 persen, serta industri karet, barang dari karet, dan plastik sebesar 7,80 persen.

Menperin optimistis, pertumbuhan tersebut akan lebih terdongkrak lagi apabila kebijakan penurunan harga gas dan listrik bagi industri seluruhnya dapat terealisasi.

“Bahkan, itu bisa menambah daya saing industri nasional di kancah global,” tegas Airlangga.

DMS TWITTER

DMS Fan Page